Sabtu, 17 Januari 2015

Aku Hanya Bian

Hari itu sangat panas. Entah cuacanya atau hanya perasaanku saja. Yang jelas saat itu aku sangat berkeringat.

Aku baru ingat sekarang.
Saat itu, tahun 2007, bulan Januari, tepatnya hari Rabu, entah tanggal berapa, aku baru saja selesai mengikuti mata pelajaran Penjaskes di SMA.
Disinilah kisah itu dimulai.

Setelah mengganti kaos olahraga yang berwarna white navy itu dengan seragam putih abuku yang ngetat, aku mengistirahatkan badanku sambil meminum air mineral gelas yang ku pinta dari Maman. Dia sahabat sekelasku sejak kelas 1 sampai sekarang di 3 IPA.

Suasana dikelas masih santai, karena masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum mata pelajaran selanjutnya dimulai. Aku duduk dibangku siapa saja yang aku suka karena memang belum ada yang menempatinya, masih pada diluar.

"Yang halaman 32 udah dikerjain belum?"
Terdengar salah satu penghuni kelas kami sedang membicarakan PR Biologi dengan teman sebangkunya.
"Boro-boro.. Soal nomer 2 aja aku bingung, apalagi halaman 32". Sahut temannya itu.

Dia adalah Mutia, cewek tinggi langsing, pake kacamata, dan agak cantik. Rambutnya panjang lumayan pirang, entah dari sananya atau pake cat rambut sachet. Yang aku tahu dia tidak pintar, malah terbilang o'on. Aku serius! Dia penghuni peringkat 15 besar, terbawah. Iya si Mutia itu.

Mutia adalah wanita yang belum mengerjakan PR dari nomer 2 halaman 31 LKS Biologi. Sedangkan yang tadi bertanya, aku beritahu kamu.. Dia adalah pacarku, tepatnya sebulan kemudian.
Namanya Syifa. Syifa Aulia.
Wanita yang menurutku lucu, ceria, ramah, sopan, dan orang-orang mengakui dia cantik. Apalagi setelah dia menjadi pacarku.

Saat ini aku sedang suka pada Syifa. Kau tahu kenapa?
Karena dia wanita.
Oh, terlalu biologis alasannya.
Aku beritahu saja, karena dia cewek alim, solehah, pakai jilbab. Entah kenapa aku suka.
Perlu kau ketahui, diriku adalah anak nakal dengan prestasi yang baik. Bandel tapi pinter. Guru-guru pun sudah memaklumi itu.

Aku terkadang menggoda Syifa saat pelajaran berlangsung. Memanfaatkan kebaikan Dedi dan Ardy untuk bertukar bangku, karena bangku Syifa dan Mutia tepat berada didepan bangku mereka. Kadang Dedi yang pindah, aku sebangku sama Ardy. Kadang Ardy yang pindah, dan aku sebangku sama Dedi. Mereka pun sahabat-sahabatku dari kelas 1. Seperti Maman juga, Dadan juga, Septo juga. Kami satu geng, sampai dikenal guru sejarah sebagai 'boy band', karena geng kami cukup tenar disekolah akan kegilaannya, kelucuannya, termasuk ke-keren-an, dan ke-ganteng-an kami, terutama Ardy, dia yang paling banyak digandrungi wanita. Dari sudut utara sekolah, sampai ujung kantin di selatan. Dari anak kelas 1, 2, 3, sampai guru muda pun tertarik.

Iya Ardy, aku akui kamu ganteng dan keren, aku diperingkat kedua.

Tidak ada yang tahu aku sedang suka sama Syifa, termasuk Maman, Dedi, Ardy, Dadan, juga Septo. Juga guru sejarah tadi.
Aku hanya beberapa kali pernah ngobrol dengan Syifa. Tiga kali pinjam penghapus, satu kali pinjam pulpen dan tidak aku kembalikan sampai tintanya habis. Lalu berkali-kali saat dia menagih uang kas kelas. Syifa adalah bendahara dikelas kami.

Teman-teman 'boyband'ku juga sering menggoda syifa, sama sepertiku. Hanya bedanya aku menggoda dia sambil diam-diam menyimpan misi rahasia. Aku pun semakin akrab dengan syifa, bercanda dan tertawa, walau terkadang dia kesal dan jengkel karena aku sering mengejeknya, tapi dia pun terhibur.

Aku sangat ingat jelas ketika mata pelajaran Bahasa Inggris dikelas kami, saat itu aku dan Ardy duduk dibelakang bangku syifa dan mutia. Kami sesekali mengganggu mereka dari belakang.
Sambil pura-pura menyimak pelajaran, aku sering mengajak syifa bicara dari belakang, dengan tubuh dan wajahnya tetap menghadap papan tulis, namun sesekali dia menoleh kebelakang sambil tertawa kecil atau sekedar memamerkan senyum lucunya.

"Aku tau sekarang kenapa kamu pake jilbab," aku mulai bercanda lagi. Dia menoleh penasaran.
"Kenapa?"
"Pasti karena kamu botak, ngaku aja"
"Iiiih, dasar. Rambut aku bagus tau! Makanya sayang kalo dipamer-pamerin"
"Aku gak percaya, coba buktiin"
"Yaa masa mau dibuka disini, ga boleh"
"Terus? Gimana aku bisa percaya?"
"Ntar kapan-kapan kalo kamu kebetulan liat rambut aku, hahaha"
"Kalo lagi dirumah kamu pake kerudung juga?
"Ya gak lah, masa aku tidur pake jilbab"
"Kalo gitu aku harus ke rumah kamu"
"Ih ngapain?"
"Buktiin kalo kamu gak botak"
"Hehehe, dasar"
Dia cuma senyum tanpa memberi jawaban boleh atau tidak. Aku anggap saja senyuman itu mengisyaratkan boleh.
"Pinjem buku kamu sini"
"Yang mana?"
"Yang kamu pegang, cepetan!"

Sejak tadi guru bahasa Inggris ini, Bu Diah, sudah menengok kearah kami, dan jika dia tahu aku tidak memperhatikan apa yang dia bahas dibuku setebal 350 halaman itu, habislah aku.
Buku bahasa Inggrisku ketinggalan. Lebih tepatnya sengaja tidak dibawa, tasku tidak muat. Maklum, aku hanya memakai tas selendang kecil yang cuma muat 2 buku tulis, 2 LKS yang dilipat horizontal, dan 1 buku 'diari'ku. Sisanya aku selalu titip ke Maman atau Septo. Itu berlaku untuk semua mata pelajaran, tanpa kecuali.

Benar saja, Bu Diah berjalan menuju meja kami. "Halaman berapa dy?" Bisikku ke Ardy sambil segera membuka lembaran buku yang aku pinjam tadi.
Bu Diah semakin mendekat.
"78 bro," bisik Ardy
"Bian, buku siapa itu? Buku kamu mana?"
Bu Diah berdiri disampingku sambil menatap tajam.
Aku senyum kecil untuk ngeles, "Bukunya.. Sss..Syifa Bu, Punya saya gak dibawa sama Septo, minggu kemarin dipinjam, belum dikembalikan"
"Benar Septo?"
Septo jelas-jelas mendengar kebohonganku karena dia berada disamping bangkuku dan Ardy.
"Ngga Bu. Kenapa nyalahin aku, Yan?"
Ah Septo, awas kau! Ku gunduli habis rambut keritingmu nanti. Aku kira kau akan membelaku.
Aku memalingkan muka dari tatapan Bu Diah, sebelum mata tajamnya menyorotku lagi.
"Halaman 78 kan Bu, ini saya sedang memperhatikan" aku mencoba mengalihkan perhatian Bu Diah.
Wanita tua berkacamata dan berjilbab itu menggelengkan kepala menghadapi kelakuanku.
"Lain kali...Kamu..."
"Iya Bu, iya lain kali saya bakal ngingetin Septo jangan lupa ngembaliin buku saya, mari kita lanjutkan pelajarannya Bu"
Lagi-lagi Ibu guru itu menggeleng. Akhirnya Bu Diah mengalah dengan menghela nafas, dan kembali kedepan kelas.
Teman-temanku tertawa cekikikan, termasuk Syifa. Dia terus tertawa sambil senyum melihatku. Ku pandang wajahnya, aku pun tersenyum lalu tertawa.

Aku mengembalikan buku Syifa setelah jam pelajaran selesai. Tadi itu pelajaran terakhir dihari Kamis ini.
"Nih, buku kamu. Hati-hati nyimpennya."
"Kok hati-hati?" Syifa kebingungan, keningnya mengkerut.
"Hati-hati ntar dipinjem Septo, ga bakal dibalikin"
"Hahaha, dasar. Kamu ya, lempar batu sembunyi tangan. Temen sendiri difitnah. Gaa boleh gitu."
"Aku cuma ngetes solidaritasnya aja, ternyata dia pengkhianat. Dia dipihak Bu Diah. haha"
"Makanya, bawa buku. Jangan bandel"
"Oiya, bukunya tadi aku coret nama kamunya terus ku ganti pake nama aku, aku panik"
"Euh, dasar nyebelin. Mau ngaku buku ini milik kamu gitu?"
"Tadinya sih begitu"
"Terus kenapa gak jadi?"
"Hal yang bersangkutan dengan kamu, aku harus jujur"
"Mmm... Kenapa?
Ku ambil tas kecilku lalu bangkit hendak meninggalkan Syifa, aku bicara dengan datar.
"Kamu bakal tau nanti malem".
Dia penasaran, mencoba memanggilku terus menerus.
"Hey, mau kemana ih? Kok nanti malem?"
"Biaaaan! Hey"

Ku abaikan suaranya dan terus berjalan menjauh, biar keliatan keren. Para 'boyband' pasti sudah berada diluar gerbang menungguku, aku segera menyusul mereka. Setelahnya aku pun langsung meninggalkan sekolah tanpa bertemu Syifa lagi.

Kamu tidak tahu, sebenarnya aku coret nama Syifa Aulia dibuku itu dan kuganti dengan nama Bian Al Kautsar, lalu dibawahnya kutulis deretan angka 085222145146, nomor Hp ku.
Aku yakin malam ini dia pasti menghubungiku, kita tunggu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar