Sabtu, 17 Januari 2015

Aku Hanya Bian [2]

Hari Jumat. Batik menguasai seluruh penjuru sekolah. Selesai menyimak pelajaran Kimia favoritku, aku dan Maman beranjak ke toilet. Bukan untuk buang air kecil. Kami lebih sering menggunakan toilet sebagai tempat untuk memperbaiki penampilan. Merapikan pakaian, membasahi rambut, dan bercermin. Semua orang ingin terlihat menarik bukan? Tidak cuma perempuan.

Aku dan Maman kembali ke kelas setelah membeli beberapa cemilan dari kantin. Hari ini aku sebangku dengan Dedi. Kau pasti tahu maksudku. Tentu saja untuk bisa berdekatan dengan Syifa.

"Tadi malem sibuk banget ya?"
Suara lembut itu menghentikan gerakan mulutku yang sedang mengunyah keripik pedas.
"Jadi yang semalem sms itu kamu? Gak sibuk sih cuma lagi gak punya pulsa"
"Oh, kirain lagi sibuk"
"Aku kira kamu bakal nelepon"
"Ih ngapain? Masa cewek yang nelepon"
"Emang HP cewek gak ada fitur panggilan keluar?"
"Hehehe, bukan gitu. Yaa malu aja"
"Malu kayak kucing"
"Hehe, tapi kucing kan lucu"
"Kamu suka kucing?"
"Iya, kamu?"
"Nggak"
"Kenapa?"
"Kucingnya yang suka sama aku"
"Hahaha, dasar Bian."

Tadi malam, seperti yang sudah kuduga. Syifa mengirim sms ke nomor yang aku tulis kemarin di buku Bahasa Inggrisnya :

Aku Hanya Bian

Hari itu sangat panas. Entah cuacanya atau hanya perasaanku saja. Yang jelas saat itu aku sangat berkeringat.

Aku baru ingat sekarang.
Saat itu, tahun 2007, bulan Januari, tepatnya hari Rabu, entah tanggal berapa, aku baru saja selesai mengikuti mata pelajaran Penjaskes di SMA.
Disinilah kisah itu dimulai.

Setelah mengganti kaos olahraga yang berwarna white navy itu dengan seragam putih abuku yang ngetat, aku mengistirahatkan badanku sambil meminum air mineral gelas yang ku pinta dari Maman. Dia sahabat sekelasku sejak kelas 1 sampai sekarang di 3 IPA.

Suasana dikelas masih santai, karena masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum mata pelajaran selanjutnya dimulai. Aku duduk dibangku siapa saja yang aku suka karena memang belum ada yang menempatinya, masih pada diluar.

"Yang halaman 32 udah dikerjain belum?"
Terdengar salah satu penghuni kelas kami sedang membicarakan PR Biologi dengan teman sebangkunya.
"Boro-boro.. Soal nomer 2 aja aku bingung, apalagi halaman 32". Sahut temannya itu.

Dia adalah Mutia, cewek tinggi langsing, pake kacamata, dan agak cantik. Rambutnya panjang lumayan pirang, entah dari sananya atau pake cat rambut sachet. Yang aku tahu dia tidak pintar, malah terbilang o'on. Aku serius! Dia penghuni peringkat 15 besar, terbawah. Iya si Mutia itu.

Mutia adalah wanita yang belum mengerjakan PR dari nomer 2 halaman 31 LKS Biologi. Sedangkan yang tadi bertanya, aku beritahu kamu.. Dia adalah pacarku, tepatnya sebulan kemudian.
Namanya Syifa. Syifa Aulia.
Wanita yang menurutku lucu, ceria, ramah, sopan, dan orang-orang mengakui dia cantik. Apalagi setelah dia menjadi pacarku.

Saat ini aku sedang suka pada Syifa. Kau tahu kenapa?

Dia Dimana?


Ya Tuhan, kenapa lama sekali. Biasanya tidak seperti ini, aku kenal betul kekasihku. Dia orang yang sangat menghargai waktu. Tapi, ini sudah lewat 48 menit dari waktu yang kita sepakati, pukul 20:00. Apa jam ku terlalu cepat? Mustahil, ini memang pukul 20:48.
Apa ada sesuatu yang harus dia rencanakan sebelum kita bertemu dan belum selesai dikerjakannya? Memangnya apa yang akan dia bicarakan malam ini sih?

Oh Tuhan, semua membuatku tegang. Nada bicaranya tadi siang sepertinya tidak ramah. Coba ku ingat lagi. Ya aku masih jelas mendengar perkataannya ditelepon tadi siang, "Bisakah kita bertemu di tempat biasa malam ini? Ada hal serius yang ingin aku bicarakan, sayang."
Sangat terdengar nada bicaranya lesu, apakah dia akan mengatakan bahwa hubungan kita berakhir? Ah, jangan ya Tuhan. Aku sangat mencintainya. Kau tahu perasaanku kan Tuhan? Lagipula mana mungkin dia tiba-tiba memutuskan hubungan kami berdua. Tadi kan dia masih memanggilku dengan panggilan 'sayang'. Jelas sekali, aku yakin bukan itu yang akan dia bicarakan.

Atau mungkin dia akan memberiku kejutan dengan berkata, "Maukah kau menikah denganku, sayang?". Ya bisa saja, dia melamarku malam ini, dia benar-benar memenuhi keinginan terbesarku.
Ya Tuhan, aku jadi nervous. Bagaimana cara menjawab lamaran yang baik ya? Biar aku terlihat seperti wanita dewasa.
"Tentu saja sayang, aku mau. Itu yang ku tunggu selama ini". Ah tidak, itu terlalu bertele-tele dan kekanak-kananan. Bagaimana kalau, "Dengan senang hati, sayang". Ya sederhana, berwibawa. Tapi rasanya tidak romantis ya. Ah jangan kalau begitu.
Ayolah, kenapa belum datang juga ya Tuhan? Tolonglah Tuhan, doronglah dia agar sampai kesini secepatnya dan juga beritahu dia kalau aku sudah sampai 48 menit yang lalu.

Ini Bukan Karma

"Kau lihat pasangan kekasih disebrang meja sana?"

"Ya, kenapa dengan mereka?"

"Aku iri pada mereka!"

"Memang kelihatannya mereka sangat serasi."

"Apa hidupmu bahagia sekarang, Jimmy?"

"Tentu saja, dan aku sangat berterima kasih padamu."

"Berterima kasih?? Padaku??"

"Ada yang salah?"

"Kau bilang berterimakasih padaku? Setelah aku menghancurkan mimpimu? Setelah aku menghabiskan kekayaanmu hinggu kau bangkrut? Setelah aku meninggalkanmu saat kau berniat menikahiku dan aku pergi dengan pria lain? Setelah aku menyakitimu dengan sesakit-sakitnya? Kau masih berterima kasih pada wanita yang hina ini?"

"Kau wanita yang memberiku pelajaran berharga, Ann. Sebenarnya apa maksudmu menemuiku ditempat ini setelah 3 tahun kau menghilang dari hidupku?"

"Maafkan aku Jimmy, maaf, maaf, maaf!"

"Tenangkan dirimu, jus mangga itu menunggu kau meminumnya. Kau tak mungkin mencampakkan minuman favoritmu itu, kan? Setelahnya, kau boleh menceritakan maksud pertemuan kita."

"Menurutmu, apakah ini karma yang kuterima setelah menghancurkan hidup seorang pria baik hati sepertimu?"

"Kau berlebihan, aku tak sebaik itu, Anna. Aku akan mendengarkan apapun yang akan kau ceritakan."

"Karierku sudah hancur, Jimmy. Pria yang dulu membawaku ke dunia modeling ternyata seorang bajingan. Entah bagaimana aku mengucapkannya padamu, dialah yang membuatku memeras kekayaanmu, agar aku bisa menjadi seorang top model. Bajingan itulah yang membuatku meninggalkanmu. Dia menjanjikan karier yang gemilang untukku, dia pun merebut hatiku dan berjanji menikahiku setelah aku memberikan semua yang ia minta. Tapi akhirnya...."

"Aku turut bersedih, Anna. Ini, pakailah, pipimu basah"

"Terima kasih. Setelah ia mendapatkan semuanya dariku, ternyata wanita lain menggantikan posisiku. Aku yakin wanita itu korban selanjutnya."

"Lalu?"

"Aku ditendang dari karierku yang sedang berada dipuncak kesuksesan. Bajingan itu bisa mengontrol semuanya. Sekarang aku hancur, Jimmy."

"Ku kira kini kau sudah bahagia."

"Setelah aku jatuh miskin karena kehilangan predikat top model itu, ibuku meninggal. Tepatnya sebulan setelah kejadian itu. Ayahku pergi meninggalkan rumah, ia kini punya keluarga baru. Aku benar-benar sendiri, Jimmy."

"Separah itu kah?"

"Itulah yang membawaku mencari keberadaanmu sekarang, aku rasa semua kehancuran ini karena apa yang kulakukan padamu dulu, aku mencarimu untuk mendapatkan kata maafmu, Jimmy. Kuharap itu bisa menghentikan karma ini."

"Aku sudah memaafkanmu, Ann."

"Semudah itu? Aku mungkin harus memohon-mohon, meraung, dan berlutut dihadapanmu untuk sebuah kata maaf."

"Tak perlu seperti itu. Mungkin memang hidupku hancur karena kekhilafanmu, namun ada yang menyuruhku untuk tetap bersabar dan bersyukur atas semua yang ku alami."

"Bersabar? Bersyukur? Tidak mungkin disaat seperti itu. Kenapa kau bisa melakukannya?"

"Aku percaya perintah itu, aku hanya melakukannya, bersabar dan bersyukur. Setelah keterpurukan itu aku kembali bangkit menata hidup baru, tanpamu. Kini aku memetik buahnya, perusahaan baruku mulai melebarkan sayap, aku menemukan istri yang sangat kucintai dan mencintaiku, serta buah hati yang sangat kami sayangi."

"Aku benar-benar menyesal, Jimmy. Kini kau telah bahagia. Sekali lagi aku minta maaf. Tapi, kau tadi bilang perintah? Ada yang menyuruhmu?"

"Kau tidak salah mendengar, Ann. Aku melakukan apa yang Dia katakan. Dan kau bisa lihat sekarang, Ann. Aku benar-benar bahagia, kuharap ini tidak menyinggung perasaanmu."

"Aku harap aku pun bisa menata kembali hidupku. Bisakah kau membantuku? Pertemukan aku dengan dia yang sudah memberi semangat untukmu itu. Bisakah kau mengenalkannya padaku? Siapa dia, Jimmy?"

"Dia adalah Tuhanku, kurasa kau pun mengenal-Nya, Anna. Bukankah Dia juga memerintahkan kepadamu apa yang Dia peritahkan kepadaku? Dia yang menyuruh kita bersabar dan bersyukur dalam situasi apapun."

"Jimmy.... Aku tak tahu apa yang harus ku katakan. Aku benar-benar sudah melupakan-Nya. Aku sudah begitu jauh dengan-Nya. Apakah Dia mau memaafkanku jika aku mencoba memperbaiki kesalahanku?"

"Tentu saja, Ann. Itulah mengapa aku bisa memaafkanmu dan berterima kasih padamu. Dia pun Maha Pemaaf, Dia pun Maha Mengasihi."

"Terima kasih, Jimmy, bolehkah aku meminta tolong padamu? Agar aku bisa kembali mendekatkan diri dengan-Nya sekaligus menebus semua kesalahanku yang sudah lalu."

"Dengan senang hati, Ann. Apa yang bisa ku bantu?"

"Nikahi aku, Jimmy. Kumohon!"

SELESAI